Oleh: H. Mahfud Hidayat (Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Bogor)
Musibah merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat kembali diingatkan akan dahsyatnya kekuatan alam melalui aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik yang berdampak pada kehidupan masyarakat.
Peristiwa semacam ini tentu harus disikapi secara bijak. Dari sisi ilmiah, bencana alam perlu dihadapi dengan kewaspadaan, mitigasi, dan mengikuti arahan pihak berwenang. Namun bagi seorang Muslim, setiap peristiwa juga dapat menjadi ibrah, yaitu pelajaran yang mendorong kita melakukan perenungan dan memperbaiki kehidupan.
Al-Qur’an mengingatkan: “Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari ujian. Musibah tidak selalu identik dengan kemurkaan Allah. Ia dapat menjadi ujian, penghapus dosa, sarana peningkatan derajat, sekaligus momentum untuk kembali kepada Allah.
Musibah Menguji Kesabaran dan Keimanan
Ketika bencana datang, manusia menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya. Abu vulkanik, gempa, banjir, longsor, atau bencana lainnya dapat mengubah aktivitas manusia dalam waktu singkat.
Di sinilah kesabaran dan keimanan diuji. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan.” (HR Muslim)
Seorang mukmin ketika memperoleh nikmat bersyukur, sedangkan ketika mendapatkan kesulitan ia bersabar. Keduanya menjadi jalan kebaikan baginya.
Karena itu, ketika menghadapi musibah, pertanyaan kita jangan hanya, “Mengapa ini terjadi?” Tetapi hendaknya dilanjutkan dengan pertanyaan, “Apa yang dapat saya pelajari dan perbaiki dari peristiwa ini?”
Musibah Dapat Menjadi Penghapus Dosa
Musibah memang terasa berat. Namun Islam mengajarkan bahwa penderitaan seorang mukmin yang dihadapi dengan kesabaran tidaklah sia-sia.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan optimisme bahwa kesulitan yang kita hadapi dengan sabar dapat menjadi jalan penggugur dosa. Maka jangan sampai musibah hanya meninggalkan ketakutan, tetapi tidak meninggalkan perubahan. Kesulitan seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin baik dalam menjalani kehidupan.
Musibah Menjadi Momentum Muhasabah dan Kembali kepada Allah
Allah SWT berfirman: “Dan sungguh, Kami akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar, agar mereka kembali (kepada Allah).”
(QS As-Sajdah: 21). Ayat ini mengajarkan bahwa peristiwa yang mengguncang kehidupan dapat menjadi momentum rujuk kepada Allah.
Fenomena alam juga dapat menjadi ayat kauniyah yang mengajak manusia bertafakkur. Gunung yang tampak kokoh ternyata memiliki kekuatan yang tidak mampu dikendalikan manusia. Hal tersebut mengingatkan kita akan keterbatasan manusia dan kebesaran Allah SWT.
Namun demikian, kita tidak boleh gegabah mengatakan bahwa suatu bencana pasti merupakan azab akibat dosa seseorang atau kelompok tertentu. Hakikat dan tujuan khusus suatu musibah adalah perkara yang tidak selalu dapat kita ketahui.
Yang diperintahkan kepada kita adalah mengambil ibrah, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, menjaga lingkungan, membantu sesama, serta melakukan ikhtiar dan mitigasi bencana.
Jangan Hanya Abu, Hati Juga Harus Dibersihkan
Fenomena abu vulkanik memberikan sebuah renungan sederhana. Ketika abu menutupi rumah dan kendaraan, kita segera membersihkannya. Demikian pula ketika musibah mengingatkan kita akan kehidupan, hati pun perlu dibersihkan dari dosa dan kelalaian.
Abu dapat dibersihkan dengan air dan alat kebersihan. Sementara hati dibersihkan dengan taubat, istighfar, dzikir, memperbaiki ibadah, dan memperbanyak amal kebajikan.
Karena itu, musibah seyogianya tidak hanya menghasilkan kepanikan, tetapi juga kesadaran; tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga ketawakalan; dan tidak hanya membuat kita melihat kerusakan di luar diri, tetapi juga mendorong kita melakukan muhasabah di dalam diri.
Pada akhirnya, ibrah terbesar dari musibah adalah kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas, sementara Allah SWT Mahakuasa atas seluruh kehidupan.
Semoga setiap musibah yang kita saksikan mampu menguatkan kesabaran, meningkatkan kepedulian, memperbaiki ikhtiar, dan mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.
