Hikmah

IRI HATI YANG TERPUJI

Oleh: Admin | Senin, 10 Agustus 2026

Oleh H. Mahfud Hidayat

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَحَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِيالْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا (متّفَق عليه)


Dari Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan: Nabi saw bersabda: “Tidak ada iri hati (yang baik) kecuali dalam dua hal; (1) terhadap seseorang yang telah dikarunia harta oleh Allah kemudian ia membelanjakannya pada jalan yang hak dan (2) terhadap seseorang yang telah dikarunia ilmu (hikmah) oleh Allah kemudian ia mengamalkan ilmu tersebut dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari: No.71 dan Muslim: No.1352)


Kata Hasad (iri hati) dalam hadits ini adalah hasrat yang sangat kuat untuk memperoleh suatu nikmat sebagaimana yang telah diperoleh oleh orang lain. Apabila hasrat dan keinginan itu tidak mengharapkan lenyapnya kenikmatan yang dimiliki seseorang, maka disebut dengan ghibthah (hasrat yang kuat). Akan tetapi apabila ia menghendaki kenikmatan itu lenyap dari seseorang dan hanya mengharap menjadi miliknya semata, maka sikap tersebut disebut hasad (dengki). (Al-Munawir: 1984: 1068). Sedangkan kata al-Hikmah adalah sikap bijaksana yang berdasarkan pada ilmu atau pengetahuan yang dalam dan luas. 


Pengertian hasad secara lebih luas adalah menggandrungi suatu nikmat dan keberhasilan yang diraih orang lain dan ia mengharapkan agar karunia itu lenyap dari pemiliknya. Atau lebih jauh lagi ia menghendaki agar pemilik nikmat itu menderita kerugian atau celaka. Orang yang bersikap hasad selalu mengharapkan agar orang lain celaka dan mengharap hanya dirinyalah yang sukses. Ia merasa sangat berbahagia apabila orang lain ditimpa kesulitan atau kecelakaan, dan merasa sakit serta sedih apabila orang lain meraih kesuksesan.

Larangan bersikap hasad banyak disebutkan dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah, dalam salah satu ayat misalnya disebutkan: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. al-Nisa, 4:32)

​Semua sikap iri atau dengki adalah bersifat buruk, kecuali dalam dua hal sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas, yaitu; (1) terhadap orang yang dikarunia Allah rizki yang berlimpah sehingga ia memiliki harta kekayaan yang ia belanjakan untuk berbagai hal yang baik dan sesuai dengan ajaran agama, seperti untuk pembangunan tempat-tempat ibadah, beasiswa anak-anak miskin, santunan anak-anak yatim, yayasan pendidikan, kegiatan dakwah serta pendidikan Islam. Ia membelanjakan hartanya dalam rangka bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Membelanjakan harta untuk keperluan yang tidak sesuai dengan ajaran agama atau untuk hal yang sia-sia dilarang dalam ajaran Islam. Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw bersabda: 

لاَ حَسَدَ إِلاَّ عَلَى اثْنَتَيْنِ، رَجُلٍ أَتَاهُ اللهُ مَالاً فَصَرَّفَهُ فِيْ سَبِيْلِالْخَيْرِ وَرَجُلٍ أَتَاهُ اللهُ عِلْمًا تَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ (رواه ابن نصر)

“Tidak ada iri hati (yang baik) selain pada dua orang; (1) terhadap seseorang yang telah diberikan harta oleh Allah kemudian ia membelanjakannya di jalan yang baik, dan (2) terhadap orang yang telah diberi ilmu oleh Allah, kemudian ia mengajarkan ilmu itu dan mengamalkannya.” (HR. Ibn Nashr dari Umar bin al-Khattab)

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Ahmad dari Abi Hurairah ra, yang dimaskud dengan hikmah adalah al-Qur’an yang selalu dibaca dan ajarannya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Nabi saw bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِوَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌفَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَرَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ (رواه البخاري وأحمد)

Tidak ada iri hati (yang baik) kecuali dalam dua hal; (1) terhadap seseorang yang Allah telah mengajarkan kepadanya al-Qur’an, kemudian ia membacanya di waktu malam dan waktu siang, lalu tetangganya mendengarkannya seraya berkata: “Semoga diberikan kepadaku sebagaimana yang diberikan kepada si Fulan, maka aku akan mengamalkannya sebagaimana ia mengamalkannya. (2) Terhadap seseorang yang Allah telah memberikan harta kepadanya, kemudian ia menghabiskan harta itu dalam jalan yang hak. Maka berkatakah seseorang: “Semoga aku dikaruniai sebagaimana dikaruniakan kepada si Fulan, maka aku akan mengamalkannya sebagaimana yang ia amalkan.” (HR. al-Bukhari: No.4638 dan Ahmad: No.9824) 

Orang yang telah memperoleh ilmu dan hikmah akan memperoleh berbagai macam kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman: 

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Allah menganugerahkan hikmah (pemahaman yang mendalam tentang al-Qur’an dan al-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugrahi hikmah itu, sesungguhnya ia telah diberi kebajikan yang banyak. (QS. al-Baqarah, 2:269). 

Terhadap dua kelompok orang yang memiliki ilmu dan hikmah, kemudian ia mengamalkan ilmu itu dan mengajarkannya pada orang lain, juga terhadap orang yang memiliki harta yag banyak dan kemudian ia membelanjakannya di jalan Allah, maka kita harus bersikap iri terhadap mereka,dalam arti iri yang positif. Kalau mereka bisa melakukan seperti itu, kenapa kita tidak bisa. Dengan sikap iri yang positif itulah kita akan terus berusaha agar memiliki kemampuan seperti dua kelompok orang yang sangat terpuji itu, baik di dunia maupun di akhirat. 

Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa besarnya sugesti ajaran agama agar kita meningkatkan kemampuan diri dalam meraih ilmu, hikmah, dan harta kekayaan yang semua itu diperuntukkan bagi kebaikan dan jalan yang diridhai Allah swt. 

​Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah, digambarkan ada empat kelompok orang dalam menyikapi dua kelompok yang terpuji tadi. Dua kelompok dari mereka akan memperoleh pahala yang sama dan dua kelompok lainnya akan mendapat dosa yang sama. Nabi saw bersabda:

Perumpamaan umat ini seperti empat macam orang; (1) seorang yang telah diberi ilmu dan harta oleh Allah, kemudian ia amalkan ilmunya dan ia infakkan hartanya ke jalan yang hak. (2) Seorang yang telah dikarunia ilmu oleh Allah tetapi tidak dikarunia harta, lalu ia berkata: “Sekiranya aku memiliki harta seperti orang itu, maka aku akan mengerjakan seperti apa yang ia kerjakan.” Keduanya memperoleh pahalanya yang sama. (3) Seorang yang telah diberi harta oleh Allah tetapi tidak diberi ilmu, lalu ia menghabiskan hartanya di jalan yang tidak hak. (4) Seseorang yang tidak diberi ilmu dan harta oleh Allah, ia berharap: “Sekiranya aku memiliki seperti itu, maka aku akan mengamalkannya seperti yang ia amalkan. Keduanya memperoleh dosa yang sama.” (HR. Ibnu Majah dari Abi Kabsyah al-Anmari: No. 4218)           

Kesimpulan:

1. Pada dasarnya semua sikap hasad, iri, atau dengki adalah tercela. Namun demikian, ada sikap iri yang baik yaitu hanya dalam dua hal;(1) terhadap seorang yang telah dikarunia harta oleh Allah kemudian ia membelanjakannya pada jalan yang hak dan (2) terhadap seorang yang telah dikarunia ilmu (hikmah) oleh Allah kemudian ia mengamalkan ilmu tersebut dan mengajarkannya.”  

2. Setiap orang muslim harus berusaha agar memperoleh ilmu dan hikmah, demikian juga harta kekayaan yang diperuntukkan bagi kebajikan dan kemaslahatan umat manusia. 

3. Seorang muslim yang memiliki keinginan yang kuat dan hasrat yang tinggi untuk mengamalkan suatu ilmu ataupun membelanjakan harta ke jalan yang baik, namun ia ditakdirkan tidak mampu memilikinya, maka ia memperoleh pahala yang sama karena dinilai dari niatnya yang baik dan terpuji.