Opini & Hikmah

IBN KHALDUN : PERTARUHAN ANTARA TIRAN DAN BUDAK (Sebuah Pilihan Ekstrem Untuk Menentukan Arti Merdeka dan Kemerdekaan : Menyambut  HUT RI ke 81)

Oleh: Admin | Jumat, 14 Agustus 2026
Bagikan

Ditulis oleh Dr. M. Sulaeman Jajuli, M.E.I.

Mengingat kadung kaya dengan khazanah prestasi akademisnya yang mendunia nyaris di semua tataran fan : sejarah, ekonom, historiografi dan yang lainnya ;  maka tidak heran andai person yang satu ini demikian populer di masyarakat luas ( lebih spesial di kalangan cendikia). Itulah dia Syeikh Ibn Khaldun. Bernama komplit Abu Zaid, ‘Abdurrahman Ibn Muhammad, Ibn Khaldun al-Hadhrami. Lahir di Tunisia, Afrika Utara, pada 1 Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 M. dan wafat di Kairo, Mesir pada bulan yang sama -25 Ramadhan-808 H/19 Maret 1406 M.

Disamping masyhur dengan sematan “cendikiawan muslim” , juga  pada perspektif lain, Ibn Khaldun pun tepat untuk dijust sebagai representasi sosok seorang filosof. Mengingat ia acap menggulirkan bola pikir filosofinya yang sarat dengan muatan pembelajaran, di tengah lapangan kehidupan manusia yang bingar dengan orkestra kompleksitas ini. Berikut di bawah ini, salah satu sampel modelnya. Dia berkata :

لو خيرونى بين زوال الطغاة أو زوال العبيد لاخترت بلا تردد زوال العبيد لأن العبيد هم الذين يصنعون الطواغيت ولا يبنون الاوطان.                                                    

“Andai orang-orang memaksa saya untuk memilih antara kehilangan tiran atau kehilangan budak, tanpa ragu saya akan memilih kehilangan budak. Mengingat, budak bisa menciptakan tiran, tapi tidak bisa membangun negara”.

Jika dipotret dari sisi wujudnya, baik “tiran” maupun “budak”, adalah dua juntrung personal yang sesungguhnya sama-sama naif. Hanya saja keduanya dibatas oleh garis sekat karakter yang kontras. “Tiran” adalah sosok pemilik mesin kuasa yang over, yang  acap bertindak semena-mena. Sementara “budak” adalah sebaliknya, yakni sosok manusia yang elan vital daya nyali kemanusiaannya telah tercerabut.  Tegasnya, ia eksis pada zona pasif karena didikte serta dikendalikan oleh remote control kekuatan dan kehendak di luar dirinya ( penjajah ).

Diusik oleh term soal : Andai dihadapkan pada situasi pertaruhan yang genting (darurat) untuk menentukan pilihan satu di antara dua kasus di atas, mana yang mesti diputuskan, memilih “tiran” , atau ” budak “? Sesuai sikap pasti yang dieksekusi Ibn Khaldun di atas, ya ” pilih tiran”.

Apa pasal dan kenapa mesti “tiran”?”. Karena memiliki titik lebih, yakni adanya “sebuah kekuasaan”. Dengan kekuasaan bisa menggagas, memprakarsai dan memberi instruksi. Yang pada giliran lebih jauhnya, bisa membangun negara dengan segala tetek bengek instrumennya. Berbeda kontras dengan  “budak” , apa yang mesti diharapkan dari dia? Jangankan membangun negara, untuk mengurus dan memberdayakan diri sendiri saja pun betapa sulit ( tidak ada kemampuan).  Malah bisa jadi, budak ( perbudakan), justru yang mengundang dan menghadirkan tiran ( tirani) itu sendiri.

Tunggu dulu, jangan gagal paham. Ibn Khaldun, sama sekali tidak sedang menganjurkan untuk menjadi seorang “tiran”. Ini hanya sebatas gaya dialektika sentimental belaka (sarkasme). Adapun sasaran konteks yang sesungguhnya, ia tengah menjelaskan, menandaskan dan bahkan sekaligus menegaskan dengan setegas-tegasnya kepada kita, bahwa “merdeka dan kemerdekaan” adalah makna lain dari sebuah kekuasaan untuk menentukan nasib sendiri. Ia menjadi  harga mati yang sakral dan mahal :  mesti dijaga, dirawat dan dipertahankan, hata nyawa sekalipun sebagai taruhannya ( merdeka atau mati ? ).

Merdeka dan kemerdekaan adalah basis sebuah ruh yang bisa mewarnai dinamika kehidupan dalam segala sisi dan bentuknya, yang dikonstruksi oleh kita sendiri sebagai tongkrongan makhluk paling terhormat, berbudaya serta bermartabat. Dan dalam waktu bersamaan, ia ( merdeka dan kemerdekaan) adalah “Fase Aqobah” untuk membebaskan dan memberangus semua bentuk perbudakan dengan segala  modus operandi liarnya. Hal ini sesuai dengan amanat luhur yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 :

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Terakhir, untuk Indonesia yang tercinta “SELAMAT HARI KEMERDEKAAN-NYA YANG KE-81 ( 17 Agustus 2026 ). Semoga menjadi  “Baldatun Thoyyibatun Warabbun Ghafur”.

Wallahu A’lam bi al-Shawab.